Tumplek blek...,  itu yang bisa ku katakan tentang malioboro.  Tempat yang selalu ramai dari pagi hari sampai tengah malam. Orang dari berbagai latar belakang ada disini. Dari pemilik toko sampai pedagang emperan, dari wisatawan elit sampai backpacker, dan dari yang mencari oleh -oleh sampai hanya sekadar jalan-jalan. Semuanya Tumplek blek... di sini.
jalan malioboro

jalan malioboro
Malioboro dulu yang kukira nama sebuah tempat wisata,  ternyata hanya sebuah jalan raya  yang sebagian besar masyarakat Yogyakarta bergantung padanya. Karena jalan ini yang menggerakkan roda perekonomian Yogyakarta. Di jalan ini juga roda pemerintahan dan perpolitikan dijalankan.tiap hari sultan Hamengku buwono pergi kerja sebagai gubernur selalu melewati jalan ini begitu juga wakil rakyat Yogyakarta, bahkan di jalan ini juga terdapat istana negara.
Istana Negara Republik Indonesia

Pasar Beringharjo

Hampir tiap minggu aku kesini. Menelusuri deretan pertokoan dan pedagang emperan. Mereka menjual berbagai macam jualan. Mulai dari pakaian , accesoris , makanan, mainan, dan lain sebagainya. Selangkah demi selangkah dari awal persimpangan rel kereta dekat stasiun Tugu  sampai ke  tempat yang bernama titik nol.

Di sisi sisi jalan ini juga terdapat  beberapa nama kawasan wisata (jalan) seperti kawasan wisata sosrowijayan, dagen, pajeksan, dan kampung ketandan yang terkenal dengan pecinannya Yogyakarta. Tapi tak ada istimewanya dari kawasan ini, isinya hanya deretan toko modern yang menjual berbagai macam produk.

kawasan Wisata Dagen

Kawasan Wisata Pajeksan

Kampung Ketandan

Yang cukup menarik perhatianku adalah kawasan Titik Nol . suatu tempat di ujung jalan Malioboro yang banyak bangunan tua masih bertahan tak tergerus oleh zaman.  Dan di tempat ini  juga dekat dengan bebarapa tempat wisata seperti benteng Vanderberg , museum Sonobudoyo, museum kereta, keraton jogjakarta  dan  Taman pintar , yang kesemua tempat wisata itu dapat ditempuh dengan jalan kaki.
Titik Nol







Setiap berkunjung ke sini aku selalu mampir ke masjid Gedhe, masjid keraton yang masih berdiri gagah di samping Alun – alun lor keratonYogyakarta.   Arsitektur bangunannya yang masih kental dengan arsitektur jawa. 

Dengan situasi seperti ini jalan malioboro tidak pernah sepi mulai pagi hingga malam hari. Sehingga cocok jika aku menyebut jalan malioboro ini sebagai salah satu denyut nadi kota yogyakarta yang terus berdenyut selama kota ini masih ada.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.